Rasanya tak ada sebuah rumah tangga yang tidak pernah memiliki konflik. Sekalipun mereka yang dianggap memiliki kemampuan yang luar biasa untuk memendam emosi. Hanya tentu tinggal bagaimana cara seseorang meredam konflik yang terjadi dalam keluarga. Ada mereka yang kuat untuk tidak memperlihatkan konflik yang sedang mereka rasakan. Namun tak sedikit yang tidak kuasa untuk menyembunyikanya. Sehingga adanya konflik bisa diketahui oleh orang lain.

Ada banyak akibat dari konflik yang tidak terselesaikan. Akibat yang sederhana bisa hanya berupa putusnya komunikasi dalam beberapa waktu. Misalnya suami dan istri tidak saling bicara untuk beberapa jam atau hari, meskipun tetap tinggal di satu rumah . Sementara untuk resiko yang lebih buruk adalah tidak hanya putusnya komunikasi saja, melainkan bisa terjadinya pisah ranjang, pisah tempat tinggal hingga bercerai.

Tentu semua itu tergantung dari besar kecilnya penyebab konflik. Ada konflik yang disebabkan oleh sesuatu yang sifatnya spontanitas. Misalnya emosi yang disebabkan oleh rasa lelah, stress karena tekanan pekerjaan, atau karena perbedaan pendapat dalam mengambil keputusan. Maka konflik yang muncul karena hal-hal ini biasanya akan lebih mudah untuk diatasi. Karena konflik akan selesai ketika penyebabnya juga hilang. Yang sulit adalah ketika  konflik yang sifatnya permanen. Misalnya kebiasaan buruk yang tidak bisa disembuhkan seperti gemar dengan kekerasan, gemar judi, gemar selingkuh, atau kebiasaan buruk lainnya. Penyebab konflik yang disebabkan oleh kebiasaan buruk yang sudah tertanam sejak lama biasanya akan sulit untuk diatasi. Hal ini tentu disebabkan oleh mudahnya muncul konflik yang lebih berat dan berulang-kali. Sehingga dampak buruknya bisa terasa dan menggerogoti proses tegaknya sebuah rumah tangga.

Ada beberapa hal sepele pemicu konflik dalam keluarga. Berikut ini bisa jadi penyebab munculnya konflik tersebut:
  • Perasaan kurang dihargai. Perasaan kurang dihargai bisa muncul ketika seorang suami atau istri tidak terlalu diindahkan kata-katanya, keinginannya atau hasil pekerjaannya oleh pasangannya. Misalnya ketika suami yang tidak menghargai masakan istri. Atau istri yang tidak menuruti kata-kata suami. Pada kondisi ini biasanya akan muncul rasa jengkel dan emosi pada pasangannya. Sehingga tindakan yang dilakukan biasanya mendiamkan atau mengungkapkan kekesalan kepada pasangannya.
  • Cemburu berlebihan. Cemburu sesungguhnya hal yang wajar dan bermanfaat. Namun akan menjadi masalah ketika seseorang tidak mampu mengontrol perasaan cemburu. Dalam kehidupan berumah tangga, perasaan cemburu tentu akan muncul ketika pasangannya akrab dengan lawan jenisnya. Apalagi kalau seseorang tersebut pernah menjadi seseorang yang spesial dalam kehidupannya. Misalnya mantan pacar atau mantan suami atau istri. Ketika perasaan cemburu tidak dapat dikendalikan, maka akan cepat memunculkan konflik dalam rumah tangga. Maka sebaiknya berterus teranglah dengan perasaan cemburu kita. Kemukakan apa yang kita inginkan. Dan harus ada saling keterbukaan dan saling percaya sehingga rasa cemburu akan diarahkan pada hal yang positif.
  • Kurangnya keterbukaan masalah keuangan. Bagaimanapun  masalah keuangan adalah sesuatu yang sangat penting dalam keluarga. Suami seharusnya terbuka akan penghasilan yang mereka peroleh. Sehingga istri tidak memendam kecurigaan kepada suaminya. Dan sebaliknya, istri hendaknya memberikan informasi kemana uang dimanfaatkan. Serta mengatur sesuai dengan kemampuan suami. Sehingga suami merasa lega ketika apa yang diperolehnya dimanfaatkan pada sesuatu yang penting dan bermanfaat. Dan memberinya motivasi untuk bekerja lebih giat.
  • Masalah hubungan intim. Hubungan intim adalah pelekat dalam perjalanan rumah tangga. Ketika urusan ini terganggu maka bisa menimbulkan konflik. Masalah hubungan intim bisa terjadi karena adanya  ketidak pengertian satu belah pihak. Bisa istri yang tidak terlalu perduli dengan keinginan suami, atau suami yang tidak mampu memenuhi keinginan sang istri. Walaupun sifatnya rahasia, namun tak bisa dipungkiri bahwa permasalahan hubungan intim bisa terbawa tidak hanya dalam keluarga tapi juga ke tempat kerja. Maka masalah urusan yang satu ini haruslah didiskusikan oleh kedua belah pihak. Sehingga masing-masing pasangan tahu dengan keinginan dan kondisi  sexual yang diinginkan. Sehingga tidak sampai menciptakan konflik yang besar. Apalagi sampai diketahui oleh orang lain.
  • Masalah privasi masing-masing. Setiap orang pasti punya privasi yang tidak ingin untuk diganggu oleh orang lain, sekalipun oleh pasangannya. Ini berarti ketika seseorang sedang ingin untuk menikmati privasinya, maka pasangannya hendaknya tahu dengan keinginan ini. Privasi bisa berupa hobi sejak kecil, atau kebiasaan yang sifatnya positif. Misalnya seorang suami yang terbiasa berkumpul dengan kawan lamanya  tentu akan merasa jengkel ketika kebiasaannya dipermasalahkan oleh sang istri. Atau seorang  istri yang ingin untuk berkumpul dengan keluarganya dalam waktu tertentu, tentu akan  merasa kesal ketika keinginannya tidak dituruti sang suami. Bagaimanapun ada situasi dimana kedua belah pihak ingin menikmati dengan dirinya dan kebiasaannya.  Sejauh hal tersebut masih bersifat positif dan tidak berdampak buruk pada keluarga, tentu sah-sah saja dilakukan. Dan tentu akan lebih baik kalau privasi dibicarakan dan diketahui oleh baik suami maupun istri.
  • Kurangnya toleransi dalam pembagian tugas di rumah. Dalam sebuah rumah tangga, terkadang kita tidak memiliki orang lain yang mengerjakan tugas rumah. Maka ketika tidak ada toleransi dalam melakukan pekerjaan di rumah, bisa menimbulkan konflik. Maka sebaiknya kedua belah pihak saling membantu untuk meringankan tugas masing-masing. Walaupun itu bukan menjadi kewajibannya. Misalnya suami yang menolong istri memasak, mengasuh anak, atau hanya sekedar menemani. Tentu ada perasaan berbeda ketika pekerjaan rumah dapat dilakukan secara bersama-sama. Sehingga pekerjaan yang terasa berat akan terasa ringan. Sehingga menjadikan perasaan senang dalam mengerjakannya.
Pasti masih banyak hal yang bisa menjadi pemicu konflik. Tentu bukan semakin buruknya keadaan yang kita inginkan. Melainkan terselesaikannya konflik dalam rumah tangga. Andai pun ada maka bukan disebabkan sesuatu yang berulang-ulang. Namun sesuatu yang baru yang semoga bisa teratasi. Sesungguhnya konflik adalah pengikat kemesraan dalam hubungan antara suami dan istri. Karena konflik bisa menciptakan kedekatan hubungan emosional antara suami istri. Selama kedua belah pihak menanggapi konflik sebagai bumbu rumah tangga. Dan siap dengan cara yang dewasa dan santun  untuk menyelesaikannya. 

Comments

5 Responses to “Penyebab Konflik Dalam Keluarga”

  1. Yazid Fahmi on 15 Maret 2012 20.15

    sayangnya ane belum berumah tangga.tapi, bisa jd pelajaran berharga koq buat nantinya saya berumah tangga.. salam kenal gan, jangan lupa berkunjung balik dan berkomentar di blog ane. www.info-yazid.com

  2. Jelajah Nesia on 15 Maret 2012 21.32

    Berbagi Kisah, Informasi dan Foto

    Tentang Indahnya INDONESIA

    www.jelajah-nesia.blogspot.com

  3. Ahsan Muhlisun on 16 Maret 2012 03.07

    Tak apa brother, justru pengalaman dan ilmu untuk persiapan kedepan.thanks kunjunganya...

  4. Admin on 16 Maret 2012 03.58

    keterbukaan dan komunikasi faktor utama harmoni rumah tangga

  5. Ahsan Muhlisun on 16 Maret 2012 06.20

    Benar, khususnya ketika rasa jenuh datang...